Hampir 2 bulan ini, dunia dihebohkan dengan virus yang kemudian ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) sebagai Pandemi. Coronavirus Disease yang kemudian di singkat COVID-19 oleh WHO tak lain dan tak bukan adalah pemeran utamanya. Data menunjukan 202 negara di dunia mengkonfirmasi adanya kasus COVID-19 dengan total 509164 kasus positif dan 23335 kematian (Source) 27 Maret 2020, 23.31 GMT+7. COVID-19 adalah kondisi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (Source).
Well, saya tidak akan membahas penuh mengenai COVID-19, baik secara klinis, apalagi biomolekulernya, karena para ahli lebih berhak menerjemahkan dan menganalisa pada bagian tersebut. Disini, saya hanya memposisikan diri sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi yang melihat bahwa kejadian ini tidak hanya memberikan keburukan bagi manusia. Dahulu kala, ketika tindakan promotif dan juga preventif yang dilakukan oleh tenaga medis maupun mahasiswa medis sering kali kurang menjadi perhatian utama, kini seakan roda berputar. Pola hidup bersih sehat, cuci tangan sesuai langkah WHO semakin gencar di kampanyekan oleh berbagai elemen. Masyarakat disekitar saya pun sudah mulai sadar akan hal tersebut, terutama pentingnya menjaga kebersihan. wastafel bermunculan, hand sanitizer dan banyak jenis lainya semakin banyak terlihat. Pandemi ini seakan menjadi penyihir yang dengan mantra nya mengubah pola hidup manusia.
Selain itu, apakah kita bertanya, kenapa ibu kita, bumi ini, mau menampung virus ini, kenapa tidak engkau musnahkan saja wahai ibu?. Kadang kita lupa karena sangat fokus dengan ambisi yang sebenarnya baik, mengejar cita cita yang akan berguna bagi orang disekitar kita, tapi bolehkah sedikit ingat dengan kondisi ibu saat ini nak? ibu sudah menyediakan apa yang ia punya untukmu, dan apa yang sudah kau lakukan untuk ibu?. Ibu adalah analogi pengganti bumi. Seruan tentang save earth dan jagalah lingkungan sudah marak digaungkan, termasuk tulisan yang saya buat ini, tetapi apakah sudah banyak, aksi nyata yang dilakukan untuk merawat bumi?. The Intergovernmental Panel on Climate Change, sebuah grup yang berisi 1300 ilmuwan dari seluruh negara didunia menyebutkan bahwa 95% aktivitas manusia menyebabkan planet menjadi panas (Source : NASA). Polusi yang dihasilkan dari aktivitas pabrik, kendaraan bermotor, bahkan tanpa disadari aktivitas dirumah pun bisa menyebabkan peningkatan temperatur bumi.
Gambar di samping kiri adalah temperatur bumi pada tahun 1884 yang saya dapatkan dari situs NASA.
Mungkin agak lancang, siapa saya sehingga bisa mengaitkan pandemi ini dengan kondisi bumi, tetapi hal itu menjadi sederhana ketika sudah banyak pihak yang ternyata sudah terlebih dulu menganalisa adanya sisi positif yang didapat. Kebijakan karantina wilayah atau lockdown pada beberapa negara dan wilayah di dunia menyebabkan kegiatan sehari hari yang dilakukan oleh manusia berkurang, bahkan turun drastis. Pabrik dan kendaraan bermotor yang menyumbang kenaikan polusi libur, bumi pun mulai terhibur. BBC news dalam sebuah berita yang mengutip data NASA menyebutkan polusi udara dan kadar CO2 turun dengan cepat karena penyebaran virus corona di dunia.
| Source : https://www.bbc.com/news/science-environment-51944780 |
Dari hal sederhana itulah saya bercerita dalam situs ini, bahwa bumi sedang tersenyum ketika wabah ini ada, healing time for earth !. Entah akan berlangsung lama atau cepat healing time ini berjalan. Ironisnya, apakah harus ada "down time" yang menghebohkan dunia saat ini? agar kita bisa ingat kepada ibu, bumi yang sering mendapat guyonan dari manusia. Terlepas dari itu semua, tentu Tuhan juga berperan dalam setiap kejadian di bumi. COVID-19 tidak selalu memberikan energi negatif, kecuali jika hanya itu yang selalu di kulik.
Semoga, manusia bisa melewati proses ini dengan hati yang luas nan tabah. Pelajaran bisa didapat apabila mata kita terbuka dan menyadari ada rumus rumus yang bermanfaat untuk diterapkan pada masa setelah pandemi ini. Tidak bermaksud untuk mengharapkan adanya corona agar polusi berkurang, hanya memberikan sedikit gambaran dari sisi saya karena sejatinya keadaan ini sudah terlanjur ada dan waktu pun tidak bisa diputar, pun saya juga terpukul dengan jatuhnya korban dan ketidaktenangan dalam melakukan aktivitas, lalu apakah kita hanya mencari keburukan dari kondisi ini? tentu saja tidak.
"Share your own positive energy to others and you will give bright through darkness"
By the way, setelah sejak 2012 diperkenalkan blog oleh teman saya waktu SMP dengan konten mayoritas copy paste situs orang tanpa memikirkan bobotnya, akhirnya waktu luang mahasiswa ada untuk sedikit menuangkan pendapat sebagai konten dalam blog ini. Selamat Menikmati.



0 komentar:
Posting Komentar